Pendapatan Nelayan di Kampung Tua Terih tercatat meningkat berkat program pendampingan yang dijalankan oleh Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal Hang Nadim. Upaya ini dilakukan melalui skema Community Involvement & Development (CID) Kampung Bahari Si Pelaut, yang menfasilitasi pengolahan hasil laut menjadi produk bernilai tambah.

Program tersebut melibatkan nelayan setempat dan kelompok perempuan yang mengolah hasil tangkapan laut menjadi sumber pangan, produksi usaha, serta tambahan penghasilan keluarga. Inisiatif ini dinilai memberikan manfaat ekonomi sekaligus membuka peluang pengembangan UMKM di kawasan pesisir Batam.
Program CID dan Peran Pertamina
Community Involvement & Development (CID) yang dibina oleh Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal Hang Nadim hadir sebagai wadah pendampingan bagi komunitas di Kampung Tua Terih. Melalui program ini, kegiatan yang berfokus pada pengolahan hasil laut dilaksanakan untuk mengangkat nilai produk lokal dan memperkuat mata pencaharian masyarakat pesisir.
Peran perusahaan bukan hanya bersifat finansial, tetapi juga berupa pendampingan teknis dan fasilitasi kegiatan produktif. Pendekatan yang digunakan menekankan pemberdayaan komunitas agar usaha pengolahan hasil laut dapat menjadi sumber pendapatan berkelanjutan bagi keluarga nelayan dan pelaku UMKM setempat.
Dampak Pendampingan terhadap Pendapatan Nelayan
Dampak paling langsung yang terlihat adalah meningkatnya pendapatan nelayan setelah adanya pendampingan. Dengan mengolah hasil laut menjadi produk yang lebih bernilai, para nelayan tidak lagi hanya mengandalkan penjualan hasil tangkapan dalam bentuk mentah, melainkan juga memperoleh tambahan dari produk olahan yang dapat dipasarkan lebih luas.
Peningkatan pendapatan ini berdampak pada ketahanan ekonomi rumah tangga dan memberi ruang bagi keluarga nelayan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta memperkuat usaha mikro yang dijalankan oleh anggota komunitas. Dengan adanya kegiatan pengolahan, nilai tambah produk laut turut membuka akses bagi model usaha baru di tingkat lokal.
Peran Kelompok Perempuan dan Pengolahan Hasil Laut
Kelompok perempuan di Kampung Tua Terih menjadi bagian penting dalam rantai nilai pengolahan hasil laut. Mereka mengelola bahan baku menjadi produk pangan dan barang usaha yang dapat dijual, sehingga peran perempuan menjadi penopang ekonomi keluarga sekaligus penggerak UMKM setempat.
Melalui pembinaan dan pendampingan yang diberikan, keterampilan pengolahan makanan laut dan pengemasan produk semakin terasah. Hal ini memungkinkan produk dari kampung pesisir untuk mencapai standar yang lebih baik dalam hal kualitas dan kelayakan pemasaran, sehingga meningkatkan kesempatan pemasukan bagi pelaku usaha kecil.
Penguatan UMKM Lokal dan Implikasi Sosial Ekonomi
Bertransformasinya hasil laut menjadi produk olahan berdampak pada pemunculan atau penguatan unit-unit UMKM di kampung. Unit usaha kecil ini tidak hanya menambah sumber penghasilan, tetapi juga menciptakan peluang kerja bagi warga setempat, khususnya bagi perempuan dan keluarga nelayan yang ingin mengembangkan usaha sampingan.
Selain aspek ekonomi, pengolahan hasil laut yang terorganisir juga berkontribusi pada ketersediaan pangan lokal. Produk olahan hasil laut menjadi alternatif sumber pangan yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat setempat maupun dijual untuk memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas.
Langkah Ke Depan dan Pembinaan Berkelanjutan
Pendampingan yang dilakukan oleh Pertamina melalui program CID Kampung Bahari Si Pelaut di Hang Nadim menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pihak swasta dan komunitas lokal dalam memberdayakan kawasan pesisir. Keberlanjutan pembinaan dan dukungan teknis menjadi faktor penentu agar peningkatan pendapatan dan pengembangan UMKM dapat terus berlanjut.
Keberhasilan awal di Kampung Tua Terih menjadi ilustrasi bagaimana intervensi yang terarah dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial. Dengan memperkuat kapasitas pengolahan, pemasaran, serta dukungan terhadap pelaku UMKM, program ini berpotensi menumbuhkan aktivitas ekonomi yang lebih stabil bagi warga pesisir.
Seluruh upaya pendampingan tersebut menempatkan komunitas sebagai pihak utama yang mengelola sumber daya lokal, sehingga peningkatan pendapatan nelayan dan pengembangan UMKM di Kampung Tua Terih bisa berlangsung selaras dengan kebutuhan serta potensi masyarakat setempat.
