Pelopor elektrifikasi pedesaan dan pengembangan energi terbarukan berbasis masyarakat, Tri Mumpuni Wiyatno, menegaskan bahwa transisi energi EBT harus terus berjalan meskipun dunia tengah menghadapi ketidakpastian pasokan energi. Ia menyatakan bahwa gangguan pada rantai pasok energi fosil akibat konflik geopolitik tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan agenda peralihan menuju Energi Baru Terbarukan.

Menurut Tri Mumpuni, kondisi global yang memengaruhi ketersediaan bahan bakar fosil seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat pemanfaatan sumber energi terbarukan. Ia menekankan pentingnya melibatkan masyarakat secara aktif dalam setiap skema transisi agar manfaat dan keberlanjutan program dapat dirasakan secara langsung oleh komunitas lokal.
Peran masyarakat dalam transisi energi EBT
Tri Mumpuni menyoroti bahwa keterlibatan masyarakat bukan sekadar bagian pelaksanaan, melainkan kunci keberhasilan transisi energi. Pengembangan energi terbarukan berbasis komunitas, menurutnya, menjadikan warga setempat sebagai pelaku sekaligus penerima manfaat sehingga proyek-proyek energi lebih berkelanjutan dan sesuai kebutuhan lokal.
Dampak ketidakpastian pasokan energi dan urgensi percepatan
Kondisi geopolitik yang menyebabkan ketidakstabilan pasokan energi fosil menunjukkan kerentanan ketergantungan pada sumber eksternal. Tri Mumpuni menyebut situasi ini sebagai alasan kuat untuk mempercepat adopsi EBT, sehingga negara dan masyarakat memiliki alternatif yang lebih stabil dan berkelanjutan dalam memenuhi kebutuhan energi.
Baca juga: AHY Pimpin Gerakan Ayo Muliakan Sungai di Bantaran Ciliwung, Irwan: Semoga Berdampak Konkret Bagi…
Skema transisi yang inklusif dan berbasis masyarakat
Dalam pandangan Tri Mumpuni, skema transisi energi harus dirancang agar inklusif dan mempertimbangkan peran aktif komunitas. Hal ini mencakup pemberdayaan masyarakat dalam perencanaan, pengelolaan, dan pemeliharaan infrastruktur energi terbarukan, sehingga hasilnya tidak hanya bersifat teknis tetapi juga berdampak sosial dan ekonomi bagi warga.
Tantangan dan peluang implementasi di tingkat lokal
Tri Mumpuni mengakui bahwa ada tantangan dalam mengimplementasikan transisi energi, terutama ketika harus menyentuh aspek sosial dan kapasitas komunitas. Namun, ia juga menekankan bahwa tantangan tersebut seharusnya dipandang sebagai peluang untuk membangun kapasitas lokal, memperkuat kemandirian energi, dan menciptakan model yang dapat direplikasi di daerah lain.
Pesan yang disampaikan Tri Mumpuni menegaskan bahwa transisi energi bukan sekadar isu teknologi atau kebijakan, melainkan proses sosial yang membutuhkan partisipasi luas. Menghadapi ketidakpastian pasokan global, langkah yang melibatkan masyarakat dianggap sebagai strategi untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mempercepat pemanfaatan sumber energi terbarukan.
Dengan menempatkan komunitas di pusat proses transisi, menurut Tri Mumpuni, program energi terbarukan berpeluang lebih besar mencapai tujuan jangka panjang dan meninggalkan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat di wilayah implementasi. Pernyataan tersebut menggarisbawahi pentingnya sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menyusun serta melaksanakan skema transisi energi EBT.
