Bawaslu Campus Connect menjadi fokus pembahasan dalam kegiatan yang digelar di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin pada Jumat 7 Agustus 2026. Program ini, menurut Anggota Bawaslu RI Puadi, menargetkan peran yang lebih luas dari sekadar ruang akademis; Bawaslu Campus Connect diharapkan berfungsi sebagai ruang riset sekaligus menghadirkan solusi praktis dan regulatif terhadap tantangan digital yang mengemuka dalam proses pemilu.

Acara bertajuk “Generasi Digital, Demokrasi Transparan” tersebut berlangsung di kampus dan menjadi bagian dari rangkaian kerja sama Bawaslu dengan kampus-kampus negeri dan swasta di sejumlah daerah. Pernyataan mengenai target program ini disampaikan langsung oleh Puadi saat kegiatan berlangsung di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Peran Bawaslu Campus Connect dalam Pengawasan Pemilu
Puadi menjelaskan bahwa program Bawaslu Campus Connect dirancang untuk menguatkan fungsi pengawasan melalui kolaborasi dengan dunia akademik. Menurut penjelasan yang disampaikan, inisiatif ini tidak hanya bertumpu pada kajian ilmiah, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan langkah-langkah yang aplikatif dan bersifat regulatif agar dapat merespons dinamika digital yang memengaruhi penyelenggaraan pemilu.
Dengan menempatkan kampus sebagai mitra, Bawaslu berharap hadirnya pendekatan yang lebih sistematis dalam memahami fenomena digital yang kompleks, sekaligus menguji kebijakan pengawasan agar lebih relevan dengan praktik di lapangan. Perpaduan riset akademis dan perspektif regulatif ini menurut penjelasan acara menjadi salah satu tujuan utama program.
Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi
Program Bawaslu Campus Connect disampaikan berlangsung bersama berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di beberapa daerah. Kehadiran kampus-kampus tersebut diharapkan memberikan kontribusi riset dan kajian yang dapat menjadi bahan evaluasi bagi upaya pengawasan pemilu, baik dari sisi teknis maupun kebijakan.
Dalam pemaparan acara, Puadi menegaskan pentingnya keterlibatan akademisi dan mahasiswa sebagai bagian dari ekosistem pengawasan demokrasi digital. Kerja sama antara Bawaslu dan kampus dinilai sebagai wadah yang potensial untuk mengembangkan solusi konkret serta memperkaya kajian regulatif yang mendukung transparansi pemilu di era digital.
Menjawab Tantangan Digital Pemilu
Topik sentral dalam kegiatan ini adalah bagaimana generasi digital dapat berkontribusi pada demokrasi yang lebih transparan. Puadi menekankan bahwa tantangan digital menuntut respon yang tidak hanya teknis tetapi juga kebijakan. Oleh karena itu, Bawaslu Campus Connect diharapkan menjadi titik temu antara pengamatan lapangan, penelitian akademik, dan penyusunan kebijakan yang adaptif.
Pemaparan dalam forum tersebut menggarisbawahi kebutuhan akan solusi yang praktis—yang dapat langsung diuji dan diterapkan—serta regulatif—yang perlu disesuaikan agar pengawasan pemilu tetap efektif di tengah perubahan digital yang cepat. Pendekatan ganda ini menjadi landasan yang diangkat oleh penyelenggara selama kegiatan berlangsung.
Harapan dan Langkah Ke Depan
Dalam kesempatan tersebut, harapan yang disampaikan adalah agar Bawaslu Campus Connect mampu menyinergikan berbagai pihak dalam menghasilkan rekomendasi yang aplikatif. Dengan demikian, peran kampus tidak lagi semata sebagai pengamat, tetapi juga sebagai mitra strategis yang berkontribusi pada perumusan langkah-langkah pengawasan yang responsif terhadap tantangan digital.
Rangkaian kegiatan yang mengangkat tema “Generasi Digital, Demokrasi Transparan” di Universitas Lambung Mangkurat menjadi bagian dari upaya mewujudkan sinergi tersebut. Menurut penjelasan yang disampaikan pada acara, inisiatif ini merupakan salah satu jalur kerja yang ditargetkan untuk menguatkan pengawasan pemilu melalui kolaborasi antara institusi pengawas dan dunia akademik.
Ke depan, program ini diharapkan dapat menjadi model kerja sama yang menghasilkan masukan kebijakan serta alat praktik yang relevan untuk mengatasi berbagai persoalan yang muncul seiring perkembangan teknologi digital dalam konteks pemilihan umum.
