Laporan terbaru yang disusun oleh GSMA Intelligence bekerja sama dengan Huawei menyoroti bahwa memperkecil jurang literasi digital berpotensi memberikan dampak ekonomi besar bagi pertumbuhan KDNK global. Temuan itu dipaparkan saat acara Minggu Pembelajaran Digital UNESCO di Paris pada 11 September 2026, di mana laporan menggarisbawahi hubungan antara kemampuan digital masyarakat dan peluang ekonomi yang lebih luas.

Salah satu data yang disinggung dalam laporan menyebut lebih dari satu dari tiga penduduk—sekitar 38%—masih tidak memiliki akses dalam talian meski berada dalam area yang memiliki liputan jaringan. Fakta ini menjadi titik fokus laporan ketika menelaah hambatan non-infrastruktur yang menghalangi pemanfaatan teknologi digital secara optimal.
Temuan utama laporan
Laporan tersebut menggambarkan jurang antara cakupan teknis dan pemanfaatan nyata layanan digital, menandai adanya gap kemampuan dan keterampilan yang menghambat penggunaan internet meskipun akses fisik tersedia. Dalam paparan acara UNESCO, para penulis laporan menekankan bahwa masalah akses tidak hanya soal jaringan, melainkan juga soal literasi, keterampilan digital, dan kesiapan pengguna untuk memanfaatkan layanan digital dalam kegiatan ekonomi dan sosial.
Selain itu, laporan menunjukkan bahwa menutup jurang literasi digital bukan sekadar soal pemerataan akses, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat dapat menggunakan teknologi untuk produktivitas, pendidikan, layanan kesehatan, dan peluang bisnis. Potensi ekonomi yang digambarkan dalam laporan mengindikasikan bahwa peningkatan keterampilan digital dapat berkontribusi pada pertumbuhan KDNK di tingkat global.
Mengapa jurang literasi digital masih besar
Menurut analisis yang dipresentasikan, sejumlah faktor non-teknis berkontribusi pada rendahnya tingkat literasi digital. Di antaranya adalah kurangnya pelatihan yang relevan, hambatan bahasa dan budaya, serta kesenjangan dalam perangkat dan keterjangkauan biaya layanan digital. Laporan menyoroti bahwa keberadaan sinyal atau infrastruktur saja tidak cukup untuk mendorong adopsi secara luas ketika pengguna belum memiliki keterampilan dasar untuk memanfaatkan layanan tersebut.
Diskusi pada sesi presentasi juga menyinggung perbedaan pengalaman pengguna di berbagai wilayah dan kelompok demografis, yang menunjukkan bahwa tantangan literasi digital bersifat kompleks dan berlapis. Orientasi terhadap kebutuhan lokal dan pendekatan kontekstual disebut sebagai aspek penting agar program literasi dapat lebih efektif mencapai dampak yang diinginkan.
Dampak ekonomi potensial
Laporan menegaskan adanya hubungan antara peningkatan literasi digital dan potensi pertumbuhan ekonomi. Dengan membuka akses pemanfaatan teknologi bagi lebih banyak orang, produk dan layanan digital dapat mencapai basis pengguna yang lebih luas, memperluas partisipasi dalam ekonomi digital, dan meningkatkan produktivitas. GSMA Intelligence dan Huawei memperkirakan bahwa pengurangan jurang ini memiliki potensi nilai ekonomi yang signifikan, disebut-sebut bernilai triliunan dolar bagi KDNK global.
Walau angka spesifik berbentuk rangkaian proyeksi dibahas dalam laporan, penekanan pada nilai ekonomi global dimaksudkan untuk menunjukkan skala peluang yang bisa diwujudkan apabila hambatan literasi digital ditangani secara sistematis. Presentasi di Paris menekankan bahwa manfaat tersebut tidak hanya bersifat makroekonomi, tetapi juga dapat dirasakan dalam peningkatan akses layanan publik dan peluang usaha di tingkat lokal.
Langkah-langkah yang disorot untuk menjembatani jurang
Dalam pemaparannya, laporan merekomendasikan pendekatan holistik yang tidak hanya fokus pada perluasan jaringan, tetapi juga investasi pada pendidikan dan pelatihan keterampilan digital yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Upaya kolaboratif antara pemerintah, sektor swasta, dan organisasi internasional disebut sebagai kunci untuk meningkatkan kapasitas masyarakat agar mampu memanfaatkan teknologi secara produktif.
Laporan tersebut juga menyinggung pentingnya merancang program yang inklusif—memperhatikan bahasa, konteks lokal, kelompok rentan, dan model pembiayaan yang dapat meningkatkan keterjangkauan perangkat serta layanan. Di samping itu, pemantauan dan evaluasi disebut penting agar intervensi dapat diadaptasi berdasarkan hasil nyata di lapangan.
Presentasi pada Minggu Pembelajaran Digital UNESCO menutup sesi dengan penekanan pada urgensi tindakan bersama untuk mengatasi gap yang masih ada. Para pemangku kepentingan diundang untuk mempertimbangkan rekomendasi yang tertuang dalam laporan sebagai bagian dari agenda pembangunan digital yang lebih luas, dengan tujuan menjadikan literasi digital sebagai pilar pemulihan dan pertumbuhan ekonomi global.
