Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai teknologi memberi peluang baru untuk pengembangan Budaya Indonesia. Menurutnya, kemajuan teknologi tidak semata soal alat, tetapi membuka ruang kreativitas yang memungkinkan warisan budaya berkembang sesuai dinamika zaman.

Pernyataan tersebut disampaikan Fadli Zon saat memberikan Public Lecture pada pembukaan Pagelaran Budaya Karya Raya FTUI 2026. Acara berlangsung di Auditorium K.301 Adi Karsa Keteknikan, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI).
Peran Teknologi bagi Budaya Indonesia
Dalam sambutannya, Fadli Zon memaparkan bahwa teknologi dapat menjadi medium baru untuk menampilkan, merekam, dan menyebarluaskan unsur-unsur kebudayaan. Ia menilai pemanfaatan teknologi yang tepat dapat memperluas akses publik terhadap seni dan tradisi, serta menciptakan cara-cara baru dalam menginterpretasikan warisan budaya.
Kolaborasi Antara Kebudayaan, Pendidikan, dan Ilmu Pengetahuan
Fadli Zon menekankan pentingnya kolaborasi lintas bidang, khususnya antara kebudayaan, pendidikan, dan ilmu pengetahuan. Menurutnya, sinergi tersebut diperlukan agar kekayaan budaya tidak hanya tetap terjaga, tetapi juga mampu beradaptasi dan berkembang seiring perubahan sosial dan teknologi.
Ia menyampaikan bahwa integrasi aspek pendidikan dan penelitian dengan praktik kebudayaan akan memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam mengelola dan mengembangkan karya-karya budaya. Pendekatan ilmiah disebutnya dapat membantu pendokumentasian dan konservasi, sementara pendidikan membuka peluang regenerasi penggiat budaya.
Pagelaran Budaya sebagai Wadah Praktik dan Eksperimen
Pagelaran Budaya Karya Raya FTUI 2026 menjadi konteks pernyataan itu, di mana pertunjukan budaya dan kegiatan kreatif memberi ruang bagi eksperimen artistik yang memanfaatkan teknologi. Fadli Zon menyampaikan bahwa pagelaran semacam ini penting sebagai ruang praktik dan pertemuan antar pelaku budaya, akademisi, dan pelajar.
Menurutnya, kegiatan pagelaran memungkinkan penerapan ide-ide baru yang menggabungkan unsur tradisi dengan inovasi teknis, sehingga melahirkan bentuk ekspresi budaya yang relevan bagi masyarakat modern tanpa kehilangan akar tradisionalnya.
Pengembangan Sumber Daya dan Tantangan Adaptasi
Sementara menyoroti peluang, Fadli Zon juga mengingatkan tentang kebutuhan pengembangan sumber daya manusia agar mampu memanfaatkan teknologi secara efektif dalam bidang kebudayaan. Ia menggarisbawahi perlunya pendidikan yang memadai dan kolaborasi penelitian untuk memberikan dasar pengetahuan yang kuat bagi pelaku budaya.
Selain itu, adaptasi terhadap teknologi memerlukan kebijakan dan strategi yang mempertimbangkan keberlanjutan budaya, sehingga inovasi tidak justru mengikis nilai-nilai tradisional. Dalam konteks ini, dialog antara pembuat kebijakan, komunitas budaya, dan akademisi dianggap penting untuk merumuskan langkah-langkah yang berimbang.
Fadli Zon juga menilai bahwa forum-forum akademis dan kebudayaan seperti Public Lecture dan pagelaran seni dapat menjadi katalis untuk membangun jaringan kerja sama yang lebih luas, termasuk di lingkungan akademik dan komunitas kreatif di universitas.
Acara pembukaan Pagelaran Budaya Karya Raya FTUI 2026 menghadirkan momen refleksi mengenai bagaimana teknologi dan ilmu pengetahuan dapat dimanfaatkan untuk memperkaya praktik kebudayaan. Fadli Zon mengajak semua pihak untuk melihat teknologi sebagai alat yang, jika dikelola dengan baik, dapat memperluas jangkauan dan relevansi Budaya Indonesia.
Dengan penekanan pada kolaborasi lintas disiplin, pernyataan Menteri Kebudayaan tersebut menegaskan arah pembicaraan tentang masa depan kebudayaan: bukan sekadar melindungi tradisi dari kepunahan, tetapi juga menciptakan kondisi agar tradisi itu hidup, berkembang, dan dapat diakses oleh generasi mendatang melalui medium baru.
