Hari pertama IFESDC 2026 berlangsung di Kantor Pusat Bank Dunia di Washington, D.C., dengan kehadiran ratusan peserta dari Asia Tenggara, Amerika Serikat, dan berbagai kawasan lain. Konferensi internasional ini membuka dua hari dialog yang berfokus pada pemanfaatan transformasi digital untuk memperkuat inklusivitas, kepercayaan, dan keberlanjutan dalam ekonomi serta keuangan syariah.

Sesi pembukaan menegaskan pentingnya sinergi antara komunitas diaspora, pembuat kebijakan, dan institusi internasional. Pembicara menyoroti bagaimana prinsip-prinsip syariah dapat sejalan dengan misi pembangunan global melalui pembagian risiko, inklusi keuangan, dan investasi yang etis.
IFESDC 2026: Dialog tentang Transformasi Digital dan Inklusi
Dialog hari pertama dibuka dengan sambutan dari Firdaus Kadir, Presiden Indonesian Muslim Association in America (IMAAM), dan Nakhafi Hassan, Alternate Executive Director-EDS16 di Bank Dunia. Keduanya menekankan perlunya kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk memastikan transformasi digital memberi manfaat luas, termasuk menjangkau masyarakat yang belum terlayani oleh sistem keuangan formal.
Pada panel pertama yang dipandu Murniati Mukhlisin, mantan rektor Universitas Tazkia dan pendiri Sakinah Finance, para pembicara membahas jalur penyediaan layanan digital dalam ekonomi syariah. Ilias Skamnelos dari Bank Dunia menyoroti kesesuaian prinsip keuangan syariah dengan tujuan Bank Dunia untuk mengurangi kemiskinan melalui inklusi dan investasi etis. Franziska Ohnsorge, Chief Economist untuk Asia di Bank Dunia, membahas perkembangan ekonomi regional dan menekankan bahwa liberalisasi layanan serta investasi pada sumber daya manusia dapat mendorong produktivitas dan perbaikan hasil pasar tenaga kerja.
Pelayanan Digital dan Ekuitas Akses
Rafi-uddin Shikoh, CEO DinarStandard, memaparkan peluang besar untuk menjangkau masyarakat tanpa akses perbankan melalui teknologi digital. Ia menegaskan bahwa pola inklusi terlihat jelas: ketika infrastruktur dan aturan hadir, akses akan meningkat dan kelompok yang tertinggal dapat dijangkau lebih cepat. Khaled Elsayed, CEO Guidance Residential, menambahkan bahwa ekspansi produk, digitalisasi, otomatisasi, dan pemanfaatan AI menjadi kunci untuk memperluas akses dan efisiensi produk keuangan syariah.
Arief Subekti, Executive Vice President dan Head of Sharia Business di PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI), menekankan peran pembiayaan infrastruktur berdampak besar dan menyatakan bahwa Indonesia memiliki posisi unik untuk menjadi hub regional bagi pembiayaan syariah yang berkelanjutan dan berdampak, dengan PT SMI bertindak sebagai katalis pembangunan.
Sambutan, Landasan Moral, dan Perspektif Hukum
Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, H.E. Indroyono Soesilo, memberikan sambutan pembukaan yang menekankan nilai-nilai etika dalam pembangunan. Ia menyatakan bahwa kemakmuran paling abadi ketika dibagi bersama, inovasi paling bernilai ketika inklusif, dan pembangunan paling bermakna ketika berpedoman pada etika. Setelah panel pertama, Michael J.T. McMillen dari Columbia University menyampaikan kuliah tamu tentang prinsip Maqashid Syariah, menyoroti pentingnya analisis substansi ekonomi di atas bentuk hukum untuk mengembangkan keuangan syariah sebagai industri global.
Keamanan Transaksi Digital dan Regulasi
Panel kedua yang dimoderatori Fitri Hastuti membahas kebutuhan mendesak akan transaksi keuangan digital yang aman. Oya Pinar Ardic Alper dari Bank Dunia menelusuri evolusi pembayaran digital dan kesenjangan penerimaan merchant, menekankan bahwa teknologi seperti kode QR dan infrastruktur publik digital telah memangkas biaya onboarding secara signifikan dan menghubungkan konsumen dengan pedagang.
Prof. José Luis Guerrero-Cusumano dari Georgetown University membahas pembangunan kepercayaan pada AI dan ekosistem digital, merangkum bahwa kepercayaan menjadi tujuan, regulasi sebagai mekanisme, dan proporsionalitas sebagai penyeimbang. Kamal Solaiman, CEO Sinbad Capital, menegaskan kebutuhan harmonisasi rezim regulasi untuk menjaga keamanan dan integritas sistem lintas batas, sementara Michael J.T. McMillen memberikan perspektif hukum terkait keuangan digital dan kepemilikan properti.
Peluang Industri Spesifik dan Keuangan Sosial
Panel terakhir hari itu dipandu Arif Mustofa, Ketua Dewan Pembina IMAAM, mengalihkan fokus ke peluang sektor-spesifik. Thaweelap Rittapirom dari Islamic Bank of Thailand membahas peluang di sektor makanan halal dan agribisnis, menekankan pentingnya menyematkan keuangan berbasis nilai pada sektor-sektor pertumbuhan untuk mendukung rantai nilai halal. Saleha Pangarungan Sacar dari National Commission of Muslim Filipinos memaparkan peta jalan strategis Filipina, mencatat kesiapan industri keuangan syariah negara tersebut untuk ekspansi yang didorong oleh demografi dan kebijakan pemerintah.
Ahmad Juwaini, Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Republika, menutup rangkaian diskusi siang dengan wawasan tentang keuangan sosial. Ia menekankan peran instrumen seperti zakat dan wakaf sebagai sumber alternatif pembiayaan investasi yang potensial untuk mendistribusikan kemakmuran lebih merata dan memberi dampak makroekonomi.
Hari pertama diakhiri dengan jamuan makan malam selamat datang yang diselenggarakan oleh Duta Besar Indroyono Soesilo di Kediaman Duta Besar Indonesia, yang memberi kesempatan bagi peserta memperkuat jejaring dan melanjutkan pertukaran gagasan secara informal. Konferensi akan berlanjut besok dengan dialog akademik dan presentasi makalah penelitian, melanjutkan upaya membangun sistem keuangan yang inklusif dan etis melalui inovasi digital.
