retconomynow.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kembali mengeluarkan peringatan keras bagi masyarakat yang gemar berburu hidangan berbuka puasa. Memasuki bulan suci, peredaran makanan yang mengandung bahan kimia terlarang sering kali mengalami peningkatan di pasar-pasar tradisional. BPOM meminta warga agar lebih teliti dalam mengenali ciri takjil berbahaya yang berisiko merusak organ dalam tubuh. Penggunaan zat seperti formalin, boraks, hingga pewarna tekstil masih sering oknum pedagang nakal gunakan demi keuntungan pribadi. Oleh karena itu, kewaspadaan konsumen menjadi benteng utama guna mencegah dampak buruk bagi kesehatan jangka panjang. Hasilnya, keluarga Anda akan tetap sehat dan aman saat menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh.
Kenali Ciri Fisik Makanan yang Mengandung Zat Kimia
Masyarakat dapat membedakan makanan sehat dan makanan berisiko melalui pengamatan visual yang sangat sederhana. Sebab, bahan tambahan pangan ilegal biasanya memberikan tampilan fisik yang tidak lazim pada makanan atau minuman. Oleh sebab itu, salah satu ciri takjil berbahaya adalah warna yang sangat mencolok dan cenderung berpendar saat terkena cahaya. Misalnya, sirup atau agar-agar yang menggunakan Rhodamin B akan terlihat sangat merah terang namun terasa getir di lidah. Kemudian, tekstur makanan yang mengandung boraks biasanya akan terasa sangat kenyal dan tidak mudah hancur meski sudah lama disimpan. Jadi, jangan mudah tergiur dengan tampilan makanan yang tampak terlalu sempurna namun mencurigakan secara fisik.
Bahaya Kerusakan Hati dan Ginjal Jangka Panjang
Mengonsumsi makanan yang tercemar bahan kimia berbahaya akan memberikan beban kerja yang sangat berat bagi sistem ekskresi tubuh. Oleh karena itu, akumulasi zat racun tersebut dalam jangka waktu tertentu dapat mengakibatkan kerusakan hati yang sangat fatal. Sebab, organ hati dan ginjal harus bekerja ekstra keras guna menetralisir racun yang masuk ke dalam aliran darah manusia. Ciri takjil berbahaya seperti mi basah atau tahu yang mengandung formalin bahkan bisa memicu risiko penyakit kanker di masa depan. Maka dari itu, gejala awal seperti mual, pusing, atau sakit perut setelah berbuka harus segera mendapatkan penanganan medis. Tentu saja, mencegah masuknya zat berbahaya jauh lebih baik daripada harus menjalani pengobatan medis yang sangat mahal.
Tips Belanja Takjil Aman di Pasar Ramadan
BPOM menyarankan agar masyarakat memilih tempat berjualan yang bersih dan memiliki sanitasi lingkungan yang sangat baik. Sebab, kebersihan tempat pengolahan makanan juga mempengaruhi kualitas hidangan dari kontaminasi bakteri maupun debu jalanan. Oleh sebab itu, perhatikan pula cara pedagang menyajikan makanan, apakah menggunakan pelindung tangan atau dibiarkan terbuka begitu saja. Jika menemukan ciri takjil berbahaya, segera laporkan temuan tersebut kepada petugas pasar atau melalui aplikasi resmi BPOM. Kemudian, usahakan untuk membuat hidangan berbuka sendiri di rumah agar bahan baku dan kebersihan lebih terjamin secara pasti. Selain itu, pilihlah jajanan tradisional yang menggunakan bahan pewarna alami seperti daun suji atau kunyit yang jauh lebih aman.
Komitmen BPOM dalam Pengawasan Pangan Ramadan
Pihak otoritas kesehatan terus melakukan uji petik secara berkala di berbagai pusat keramaian jajanan takjil di seluruh Indonesia. Sebab, langkah preventif ini sangat efektif guna menekan ruang gerak produsen nakal yang merugikan kesehatan masyarakat luas. Kemudian, BPOM juga memberikan edukasi kepada para pedagang mengenai bahaya penggunaan bahan tambahan pangan yang tidak sesuai aturan. Oleh karena itu, dukungan dari pemerintah daerah sangat krusial dalam menata ekosistem pangan yang lebih sehat dan sangat higienis. Selain itu, kampanye mengenai ciri takjil berbahaya akan terus dilakukan melalui berbagai kanal media komunikasi digital hingga tingkat desa. Jadi, mari kita menjadi konsumen yang cerdas dan sangat teliti demi menjaga kesehatan organ hati dan ginjal kita semua.
